MANUSIA PURBA DI INDONESIA
1.
Evolusi Manusia Purba
Terhubungnya pulau-pulau akibat peng-esan yang terjadi pada
masa glasial
memungkinkan terjadinya migrasi
manusia dan fauna dari daratan Asia ke kawasan Indonesia. Berdasarkan hasil
penelitian, migrasi ini didahului oleh perpindahan binatang yang kemudian
diikuti oleh manusia dan diperkirakan terjadi pada kala pleistosen.
Sebagai bukti adanya proses migrasi
awal binatang dari daratan Asia ke wilayah
Indonesia ialah ditemukannya situs
paleontologi tertua di daerah Bumiayu yang terletak di sebelah selatan Tegal
(Jawa Tengah) dan Rancah di sebelah timur Ciamis (Jawa Barat). Fosil tersebut,
yaitu Mastodon Bumiayuensis (spesies gajah) dan Rhinoceros Sondaicus (spesies
Badak). Bila dibandingkan dengan fosil binatang didaratan Asia, fosil
-fosil tersebut berumur lebih muda
dari fosil-fosil yang terdapat dalam kelompok fauna Siwalik di India. Proses
migrasi yang terjadi pada masa pleistosen ini menyebabkan wilayah Indonesia
mulai dihuni oleh manusia. Timbul pertanyaan tentang asal-usul
manusia yang bermigrasi ke wilayah
Indonesia ini. Menilik dari segi fisik manusia Indonesia sekarang ini, mayoritas
dapat dikelompokkan ke dalam ras Mongoloid dan Austroloid. Para ahli
memperkirakan bahwa pada sekitar abad ke-40
sebelum masehi, Pulau Jawa merupakan daerah pertemuan dari beberapa ras dan
daerah pertemuan kebudayaan.
Ciri-ciri
Mongoloid yang terdapat pada manusia Indonesia, nampaknya
disebabkan adanya arus migrasi yang
berasal dari daratan Asia. Kedatangan mereka pada akhirnya menyingkirkan
manusia yang sudah hidup sebelumnya di wilayah Indonesia, yaitu dari ras yang disebut
Austroloid. Bangsa pendatang dari Asia ini mempunyai kebudayaan dan tingkat
adaptasi yang lebih baik sebagai pemburu
dibandingkan dengan manusia
pendahulunya. Keturunan dari ras Austroloid ini
nampaknya tidak ada yang dapat hidup
di Jawa,tetapi mereka saat ini dapat ditemukan sebagai suku Anak Dalam atau
Kubu di Sumatera Tengah dan Indonesia bagian timur.
Arus
migrasi para pendatang dari wilayah Asia ke Kepulauan Indonesia terjadi secara bertahap.
Pada sekitar 3.000-5.000 tahun lalu, tiba arus pendatang yang disebut
proto-Malays (Proto Melayu) ke Pulau Jawa. Keturunan mereka saat ini dapat
dijumpai di Kepulauan Mentawai Sumatera Barat, Tengger di Jawa Timur, Dayak di
Kalimantan, dan Sasak di Lombok. Setelah itu, tibalah arus pendatang yang disebut
Austronesia atau Deutero-Malays (Detro Melayu) yang diperkirakan berasal dari
Taiwan dan Cina Selatan. Para ahli memperkirakan kedatangan mereka melalui laut
dan sampai di Pulau Jawa sekitar 1.000 -3.000 tahun lalu. Sekarang keturunannya
banyak tinggal di Indonesia sebelah barat. Orang Detro Melayu ini datang ke wilayah
Indonesia dengan membawa keterampilan dan keahlian bercocok tanam padi,
pengairan, membuat barang tembikar/pecah-belah, dan kerajinan dari batu.
Seorang
ahli bahasa, yaitu H. Kern, melalui hasil penelitiannya menyatakan bahwa
terdapat keserumpunan bahasa-bahasa di Daratan Asia Tenggara dan Polinesia.
Menurut pendapatnya, tanah asal orang-orang yang mempergunakan bahasa
Austronesia, termasuk bahasa Melayu, harus dicari di daerah Campa,Vietnam,
Kamboja, dan daratan sepanjang pantai sekitarnya. Hal ini menimbulkan dugaan
bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daerah Cina Selatan yaitu di
daerah Yunan. Selain itu, R. von Heine Geldern yang melakukan penelitian
tentang distribusi dan kronologi beliung dan kapak lonjong yang ada di
Indonesia tiba pada kesimpulan bahwa alat-alat tersebut merupakan hasil
persebaran kompleks kebudayaan Bacson-Hoabinh yang ada di daerah Tonkin
(Indocina) atau Vietnam sekarang ini.
Sebenarnya terdapat beberapa teori
yang membahas tentang asal-usul manusia yang sekarang menghuni wilayah
Indonesia ini. Teori-teori tersebut antara lain sebagai berikut.
a. Teori Yunan
Teori ini didukung oleh beberapa
sarjana seperti R.H. Geldern, J.H.C. Kern, J.R. Foster,J.R. Logan, Slamet
Muljana, dan Asmah Haji Omar.
Secara keseluruhan, alasan-alasan
yang menyokong teori ini yaitu sebagai berikut.
1.
Kapak Tua yang ditemukan di wilayah
Indonesia memiliki kemiripan dengan Kapak Tua yang terdapat di Asia Tengah. Hal
ini menunjukkanadanya migrasi penduduk dari Asia Tengah ke Kepulauan Indonesia.
2.
Bahasa Melayu yang berkembang di
Indonesia serumpun dengan bahasa yang ada di Kamboja. Hal ini menunjukkan bahwa
penduduk di Kamboja mungkin berasal dari Dataran Yunan dengan menyusuri Sungai
Mekong. Arus perpindahan ini kemudian
dilanjutkan ketika sebagian dari mereka melanjutkan perpindahan dan sampai ke
wilayah Indonesia. Kemiripan bahasa Melayu dengan bahasa Kamboja sekaligus
menandakan pertaliannya dengan Dataran
Yunan.
Teori ini merupakan teori yang
paling populer dan diterima oleh banyak kalangan. Berdasarkan teori ini, orang-orang
Indonesia datang dan berasal dari Yunan. Kedatangan mereka ke Kepulauan
Indonesia ini melalui tiga gelombang utama, yaitu perpindahan orang Negrito,
Melayu Proto, dan juga Melayu Deutro.
1. Orang
Negrito
Orang
Negrito merupakan penduduk paling awal di Kepulauan Indonesia. Mereka diperkirakan sudah mendiami kepulauan
ini sejak 1000 SM. Hal ini didasarkan pada hasil penemuan arkeologi di Gua Cha,
Kelantan, Malaysia.Orang Negrito ini kemudian menurunkan orang Semang, yang
sekarang banyak terdapat di Malaysia.
Orang Negrito mempunyai ciri-ciri fisik berkulit gelap, berambut
keriting, bermata bundar, berhidung lebar, berbibir penuh, serta ukuran badan
yang pendek.
2. Melayu
Proto
Perpindahan
orang Melayu Proto ke Kepulauan Indonesia diperkirakan terjadi pada 2.500 SM.
Mereka mempunyai peradaban yang lebih maju daripada orang Negrito. Hal ini ditandai
dengan kemahirannya dalam bercocok tanam.
3. Melayu
Deutro
Perpindahan
orang Melayu Deutro merupakan gelombang perpindahan orang Melayu kuno kedua
yang terjadi pada 1.500 SM. Mereka merupakan manusia yang hidup di pantai dan
mempunyai kemahiran dalam berlayar.
b. Teori Indonesia
Teori
ini menyatakan bahwa asal mula manusia yang menghuni wilayah Indonesia ini
tidak berasal dari luar melainkan mereka sudah hidup dan berkembang di wilayah
Indonesia itu sendiri. Teori ini didukung oleh sarjana-sarjana seperti J.
Crawford, K. Himly, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Gorys Keraf. Akan tetapi, nampaknya
teori ini kurang popular dan kurang banyak diterima oleh masyarakat.
Teori Indonesia didasarkan pada
alasan-alasan seperti di bawah ini.
1)
Bangsa Melayu dan bangsa Jawa
mempunyai tingkat peradaban yang tinggi.
Taraf ini hanya dapat dicapai
setelah perkembangan budaya yang lama. Hal
ini menunjukkan bahwa orang Melayu
tidak berasal dari mana-mana, tetapi berasal dan berkembang di Indonesia.
2)
K. Himly tidak setuju dengan
pendapat yang mengatakan bahwa bahasa
Melayu serumpun dengan bahasa Champa
(Kamboja). Baginya, persamaan yang berlaku di kedua bahasa tersebut adalah
suatu fenomena yang bersifat“kebetulan”.
3)
Manusia kuno Homo Soloensis dan Homo
Wajakensis yang terdapat di Pulau
Jawa. Penemuan manusia kuno ini di
Pulau Jawa menunjukkan adanya kemungkinan orang Melayu itu keturunan dari
manusia kuno tersebut, yakni berasal dari Jawa.
4)
Bahasa yang berkembang di Indonesia
yaitu rumpun bahasa Austronesia,
mempunyai perbedaan yang sangat jauh
dengan bahasa yang berkembang
di Asia Tengah yaitu bahasa Indo-Eropah.
c. Teori “out of Africa”
Hasil
penelitian mutakhir/kontemporer menyatakan bahwa manusia modern yang hidup
sekarang ini berasal dari Afrika. Setelah mereka berhasil melalui proses
evolusi dan mencapai taraf manusia modern, kemudian mereka bermigrasi ke seluruh
benua yang ada di dunia ini. Apabila
kita bersandar pada teori ini, maka bisa dikatakan bahwa manusia yang hidup di Indonesia
sekarang ini merupakan hasil proses migrasi manusia modern yang berasal dari
Afrika tersebut.
Hasil
penelitian terbaru menunjukkan bahwa fosil-fosil manusia purba yang ditemukan
di Indonesia atau khususnya di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak mempunyai hubungan langsung
dengan manusia modern. Dengan demikian, nampaknya
jenis-jenis manusia purba yang pernah hidup di Indonesia khususnya Jawa, seperti
Meganthropus Palaeojavanicus, Pithecanthropus Erectus, Homo Soloensis,
Homo Wajakensis, dan sebagainya telah mengalami kepunahan. Mereka pada akhirnya
digantikan oleh komunitas manusia yang berasal dari Afrika yang melakukan
proses migrasi hingga sampai di Kepulauan Indonesia. Nampaknya teori ini perlu terus
dikaji dan disosialisasikan, sehingga dapat diterima oleh masyarakat. Namun
Homo Erectus yang pernah tinggal di Pulau Jawa mempunyai sejarah menarik karena
dapat bertahan sekitar 250.000 tahun lebih lama dari jenis yang sama yang
tinggal di tempat lain di Asia, bahkan mungkin bertahan sekitar 1 juta tahun
lebih lama dari yang tinggal di Afrika. Umur fosil Homo Erectus terakhir yang
ditemukan di Ngandong dan Sambung macan (Jawa Tengah) sekitar 30.000 sampai
50.000 tahun. Homo Erectus (“javaman”)
di Pulau Jawa diduga pernah hidup dalam waktu yang bersamaan dengan Homo
Sapiens (manusia modern).
Sampai
saat ini, penyebab kepunahan “ java man”
masih misteri. Diduga salah satu penyebabnya ialah karena keterbatasan strategi
hidup mereka. Tidak ditemukannya
peralatan dari batu (misalnya untuk membelah daging atau untuk berburu) di sekitar
fosil mereka menunjukkan bahwa kehidupannya masih sangat primitif. Diduga
mereka memakan daging dari binatang yang telah mati (s cavenger). Kolonisasi
Homo Sapiens yang berasal dari Afrika berhasil, karena mereka punya strategi
hidup yang lebih baik dibanding penduduk asli Homo Erectus.
Gambar 1
.1. tulang rahang bawah Meganthropus
Paleojavanicus
Sumber: Wikipedia.org.
Gambar 1.2
Fosil tengkorak dan tulang paha
Pithecanthropus Erectus
Sumber: www.google.co.id/gambar
a.
Evolusi Manusia Purba Kala Plestosen
Gambaran evolusi manusia purbakala
plestosen dapat diketahui melalui studi paleoantropologi. Bagaimana proses
evolusi perang dunia yang telah terjadi, belumlah dapat diketahui dengan pasti.
Banyak teori dan dendrogram (diagram berbentuk pohon yang menunjukkan derajat
persamaan di antara anggota-anggota suatu kelompok makhluk hidup) tentang
evolusi manusia purba telah dibuat. Hal ini menunjukkan masih banyaknya
ketidaksepakatan diantara para ahli. Salah satu faktor penyebab adalah karena
tidak ada data yang cukup untuk dapat merekonstruksi evolusi biologi secara
total. Namun demikian upaya ke arah penyusunan evolusi harus terus dilakukan.
Dalam perkembangan sejarah
penelitian paleoantropologi di Indonesia terutama diJawa terdapat data fisik
manusia purba yang cukup lengkap rangkaiannya secara bertahap dari bentuk yang
sederhana hingga bentuk yang progress. Fosil manusia purba yang ditemukan di
kawasan Indonesia berasal dari lapisan bumi kala plestosen bawah, plestosen
tengah, plestosen atas, dan awal kala Holosen. Dengan demikian akan tampak
dengan jelas evolusi bentuk fisik manusia purba pada kala tersebut. Evolusi manusia purba di Jawa diawali dengan
fosil manusia Meganthropus paleojavanicus. Manusia ini ditemukan pada lapisan
formasi Pucangan di Sangiran. Formasi tersebut dimasukkan dalam kala plestosen
bawah. Oleh karena temuan Meganthropus hanya sedikit, sulit menentukan dengan
pasti kedudukannya dalam evolusi manusia dan hubungannya dengan Pithecanthropus.
Melalui studi perbandingan dengan temuan fosil manusia dari Afrika dan Eropa
berdasarkan segi fisik dan kulturalnya maka dalam taksonomi manusia,
Meganthropus paleojavanicus dianggap
sebagai genus yang hidup pada kala plestosen bawah, dan merupakan pendahulu dari
Pithecanthropus erectus dari kala plestosen tengah. Fosil manusia yang lebih muda ialah
Pithecanthropus. Fosil manusia ini
paling banyak ditemukan di Indonesia
terutama di Jawa. Oleh karena itu pada kala plestosen di Indonesia banyak
dihuni manusia Pithecanthropus. Manusia ini
diperkirakan hidup pada kala
plestosen bawah, tengah, dan mungkin plestosen atas. Manusia Pithecanthropus
yang tertua adalah Pithecanthropus
modjokertensis yang ditemukan
pertama kali pada formasi Pucangan di Kapuh Klagen pada tahun 1936 berupa
tengkorak anak-anak. Temuan lainnya berasal dari situs Sangiran. Ditaksir
manusia ini hidup sekitar 2,5 hingga 1,25 juta tahun yang lalu, jadi kira-kira
bersamaan dengan Meganthropus (Soejono
1984). Manusia Pithecanthropus yang
lebih banyak terdapat dan lebih luas penyebarannya adalah Pithecanthropus
erectus. Temuan fosil yang terpenting dan terkenal adalah atap tengkorak dan
tulang paha dari Trinil pada tahun 1891. Berdasarkan temuan ini Eugene Dubois
memberi nama Pithecanthropus erectus. Dubois memandang Pithecanthropus sebagai
missing link, yaitu manusia perantara yang menghubungkan antara kera dan
evolusi manusia (Howell 1980, Sartono 1985). Temuan Pithecanthropus erectus
lainnya berasal dari situs Sangiran. Berdasarkan pertanggalan absolut
Pithecanthropus erectus hidup sekitar 1 hingga 0,5 juta tahun yang lalu atau
pada kala plestosen tengah.
Pithecanthropus yang hidup sampai
awal plestosen atas adalah Pithecanthropus soloensis, dan sisanya ditemukan
dalam formasi Kabuh di Sangiran, Sambung Macan (Sragen), dan Ngandong (Blora).
Berdasarkan hasil pertanggalan sementara Pithecanthropus soloensis hidupnya
ditaksir antara 900.000 hingga 300.000 tahun yang lalu (Soejono 1984). Manusia
yang hidup pada kala plestosen akhir adalah manusia dari genus Homo. Manusia ini di Indonesia diwakili oleh Homo
wajakensis yang ditemukan di Wajak (Tulungagung) dan mungkin juga beberapa
tulang paha dari Trinil dan tulang tengkorak dari Sangiran. Genus Homo mempunyai
karakteristik yang lebih progesif dari manusia Pithecanthropus.
Dari beberapa spesies tersebut di atas
dapat disimpulkan bahwa di Indonesia, terutama di Jawa pada kala plestosen
telah dihuni paling sedikit oleh empat genus species
manusia Pra-Aksara, yaitu
Megantropus paleojavanicus dan Pithecanthropus
modjokertensis (kala plestosen
bawah), Pithecantrhopus erectus dan
Pithecantrhopus soloensis (kala plestosen tengah-atas), serta Homo wajakensis (kala plestosen atas-holosen awal).
b.
Manusia Purba Kala Holosen
Sejak sekitar 10.000 tahun yang lalu
ras manusia seperti yang dikenal sekarang sudah mulai ada di Indonesia dan
sekitarnya. Dua ras yang terdapat di Indonesia pada
permulaan kala holosen, yaitu
Australomelanesid dan Monggolid. Ras Austrlomelanesid berbadan lebih tinggi,
tengkorak relatif kecil, dahi agak miring, dan pelipis tidak
membulat benar. Tengkoraknya lonjong
atau sedang dengan bagian belakang
kepalanya menonjol, dan bagian
tengah atas tengkorak meninggi. Lebar mukanya sedang dengan bagian busur
keningnya nyata. Alat pengunyah relative kuat dengan geraham-gerahamnya belum
mengalami reduksi yang lanjut. Sebaliknya
ras Monggolid tinggi badannya rata-rata lebih sedikit. Tengkoraknya bundar atau
sedang, dengan isi tengkorak rata-rata lebih besar. Dahinya lebih membulat dan
rongga matanya biasanya tinggi dan persegi. Mukanya lebar dan datar dengan
hidung yang sedang atau lebar.
Tempat perlekatan otot-otot lain
mulai kurang nyata. Demikian pula reduksi alat
pengunyah telah melanjut, dengan
gigi seri dan taringnya menembilang. Jika
ditinjau populasi manusia di Indonesia di masa Mesolitik, maka nyatalah bahwa
kedua ras pokok ini jelas sekali kehadirannya. Di bagian barat dan utara dapat
dilihat sekelompok populasi dengan ciri-ciri utama Australomelanesid dan hanya sedikit campuran
Monggolid. Di Nusa Tenggara hidup
Australomelanesid yang tidak banyak berbeda dengan populasi di sana sekarang
tetapi masih primitif dalam beberapa ciri. Keadaannya berlainan di Sulawesi
dimana populasinya lebih banyak memperlihatkan ciri Monggolid. Sementara ini penduduk masa Neolitik di
Indonesia barat sudah banyak memperlihatkan ciri Monggolid, meskipun ciri
Australomelanesid masih terdapat sedikit. Indonesia timur terutama bagian
selatan dan timur lebih dipengaruhi oleh unsur Australomelanesid, bahkan sampai
sekarang. Sulawesi keadaanya khas,
karena pengaruh Monggolid lebih kuat dan lebih awal di sini. Di masa Paleometalik, manusia yang mendiami
Indonesia dapat diketahui melalui sisa rangka yang antara lain ditemukan di
Anyer Lor (Banten), Puger (Jatim),
Gilimanuk (Bali), Ulu Leang (Sulawesi), Melolo (Sumba), dan Liang Bua (Flores).
Pada temuan tersebut terlihat pembauran
antara ras Australomelanesid dan Monggolid dalam perbandingan yang berbeda.
2.
Peta Penemuan Manusia Purba Dan
Hasil Budayanya
Gambar
Gambar 1.3. Tempat Temuan
Manusia Purba
Sumber: Atlas Sejarah
Gambar
Sumber: Atlas Sejarah
Gambar
Gambar 1.5. Tempat temuan
alat-alat masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
Sumber: Atlas Sejarah
Gambar

. Gambar 1.6.
Tempat temuan alat-alat masa bercocok tanam dan benda-benda megalithik
Sumber: Atlas Sejarah
Gambar

Gambar 1.7. Tempat Temuan kapak
persegi dan kapak lonjong
Sumber: Atlas Sejarah

Gambar 1.8. Peta Persebaran
kapak persegi dan kapak lonjong zaman Megalithik dan kebudayaan perunggu di
Nusantara
Sumber: Atlas Sejarah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar